Papa Parewa itu Paman Kami – E T Hadi Saputra

0
30

Judul Buku: PAPA PAREWA ITU PAMAN KAMI: 90 Tahun Rusli Marzuki Saria

Penulis: E. T. Hadi Saputra (Saputra, E. T. Hadi)

Penerbit: Serba University Press – Jakarta

Tahun Terbit: 2026

Tebal: (Estimasi 250 Halaman)

Peresensi: The Press

Menelusuri Jejak “Parewa” yang Cendekia

Dalam khazanah kesusastraan Indonesia, nama Rusli Marzuki Saria adalah sebuah monumen hidup. Dunia mengenalnya sebagai pemegang S.E.A. Write Award 2024—penghargaan sastra tertinggi di Asia Tenggara yang diraihnya tepat saat Sumatera Barat mengalami dahaga prestasi sastra selama dua puluh tahun. Namun, buku “PAPA PAREWA ITU PAMAN KAMI” menawarkan sesuatu yang jauh lebih intim: sebuah tambo (kebenaran batin atau riwayat asal-usul yang hidup) yang dicatat langsung oleh seorang keponakan yang juga seorang begawan literasi.

Penulisnya, E. T. Hadi Saputra, membawa ketajaman analisis hukum dan jurnalisme ke dalam narasi biografi yang puitis ini. Sebagai Redaktur Pelaksana (Hoofdredacteur) Majalah Forum Keadilan, Saputra menelusuri bagaimana didikan sang Paman akhirnya melahirkan generasi-generasi intelektual yang tangguh.

Sembilan Dasawarsa, Sembilan Fragmen Kehidupan

Buku ini membedah perjalanan sembilan dasawarsa Sang Maestro. Narasi bergerak secara impresif dari fajar tahun 1936 di Pakan Sinayan, masa sekolah di Payakumbuh, hingga pengabdiannya di Harian Haluan. Salah satu bagian paling memikat adalah kisah Paman Rusli saat bergabung dengan pasukan PRRI di bawah pimpinan Mayor Sofjan Ibrahim. Di tengah rimba, Paman tetap memegang “senjata” berupa novel Ibunda karya Maxim Gorky—sebuah simbol kedaulatan batin di tengah perang saudara.

Filosofi Parewa dan Keadilan Batin

Salah satu kekuatan utama buku ini adalah keberhasilan penulis dalam mendefinisikan ulang istilah “Parewa”. Di tangan Saputra, E. T. Hadi, Parewa bukan lagi sekadar jagoan jalanan. Ia adalah simbol kedaulatan diri dan manifestasi dari gerechtigheid (keadilan) yang murni. Sebagai ahli staatsrecht (hukum tata negara), penulis dengan jeli melihat bagaimana pilihan-pilihan hidup Paman Rusli—mulai dari desersi polisi hingga menjadi jurnalis kritis—adalah bentuk pembelaan terhadap martabat kemanusiaan.

Kesimpulan: Pelita di Ambang Muara

Ada catatan liris yang menyentuh di balik proses penerbitan buku ini. Pada Oktober 2025, setelah berita kemenangan S.E.A. Write Award tiba, penulis justru kehilangan seluruh koleksi lukisan cat minyak yang sedianya menjadi ilustrasi buku ini akibat musibah kebakaran. Namun, musibah ini justru memperkuat pesan buku: bahwa benda fisik bisa binasa, namun tambo yang tertuang dalam aksara akan tetap abadi.

“PAPA PAREWA ITU PAMAN KAMI” adalah surat cinta intelektual yang ditulis dengan gaya bahasa “Pujangga Baru” yang anggun. Ia wajib dibaca oleh siapa pun yang ingin memahami bagaimana sebuah integritas dibentuk melalui penderitaan, buku, dan kesetiaan pada akar ulayat.

Skor: 4.9/5.0

Rekomendasi: Sangat Bagus untuk koleksi perpustakaan sastra dan referensi jurnalisme berintegritas.